To Travel Flores Island in 7 days - Perbukitan Ranamese


Previously on: http://insangku.blogspot.com/2015/08/to-travel-flores-island-in-7-days-day-5.html


Hujan dan kabut tebal Di bukit selepas kota Bajawa, sebelum kota Aimere, membuat saya sadar bahwa saya akan telat beberapa jam sampai di tujuan saya berikutnya, kota Ruteng.

Saya terus memacu motor saya ketika memasuki kota Borong sekitar pukul 5.30pm. Sempat berhenti sebentar untuk mengisi bensin sekaligus saya bertanya ke bapak penjualnya:

"Pak, kalo ke Ruteng berapa lama lagi?"
"Tidak sampai sejam", dia bilang.
"Jalannya Melewati bukit-bukit?"
"Ah tidak lah, lurus saja. Paling ada bukit di Ranamese sedikit". Dia jawab sambil mengisikan bensin.

hari semakin gelap. Jalan pun perlahan menanjak. Gerimis!!!. "Oh Tuhan, jangan gerimis lagi, repot", pintaku dalam hati.
Saya pun berusaha mencari motor lain sebagai barengan menuju Ruteng.

6.00 pm
Gerimisnya membesar. Kabut mulai turun. Saya akhirnya menepi untuk memakai ponco ketika motor sport yang saya ikuti tetap melaju.
Setelah beres, kemudian menyalakan kembali motor.
"Oh No, lampu depan motor mati." Karena tidak punya pilihan lain dan saya pun tidak tau jalur ke depan, saya terus memacu motor pelan. Saya sesekali menoleh ke belakang untuk mencari barengan. "Ah, itu dia.... sepertinya perempuan".
Saya ikuti motornya dari belakang. Tidak berapa lama. Dia menepi dan mencoba bicara sesuatu. Saya pun melambatkan motor saya dan berusaha berjalan sejajar.
"Kak, mau ke Ruteng?", dia sedikit berteriak.
"Ya"
"Bareng saja Kak. Saya takut sendirian".
"Iya, saya juga cari barengan. Lampu depan motor saya mati"
"Ya, saya jalan di depan ya. Saya takut kalau di belakang"
"Ok", kata saya.

Perlahan jalan menanjak dan kami pun memasuki jalan berliku di tengah kegelapan di bukit (hutan).


ilustrasi kabut bukit Ranamese pukul 6 pm. Sumber: internet

ilustrasi jalan ketika berpapasan dengan mobil. Sumber: internet

20menit berlalu. Hujan semakin besar dan kabut semakin pekat. Kadang jarak pandang hanya 1 meter. Kabut ini Benar-benar membuat kami tidak bisa melihat jalan. Laju motor kami pun hanya sekitar 5km/jam. Jalanan sesekali terlihat  lebih jelas ketika ada sinar motor ataupun mobil dan truk dari arah berlawanan. Meskipun aspalnya bagus, tetapi jalanan berliku. Yah namanya juga jalan di perbukitan dan dataran tinggi. Kadang ada beberapa belokan dengan sudut sangat tajam. Ketika ada sinar mobil, saya dapat mengintip sedikit ke tepi jalan. Ya, ternyata kami di pinggir jurang. Saya terus berusaha menarik-narik kabel lampu motor. Setelah beberapa kali, alhamdulilah lampu kembali menyala. Entah apa jadinya kalau lampu ini tetap mati.

Memasuki kampung kecil, Kemudian dia menepi lagi.
"Kak, nanti di depan setelah melewati kampung ini, kalau saya pencet klakson, kakak klakson juga ikutin saya ya."

"Ya, ada apa memang?"

"Ah nanti sajalah saya cerita", dia bilang.

10 menit berlalu. Jalanpun memasuki hutan kembali.

Saya bisa melihat bahwa jalanan sedikit rusak. Ada beberapa bekas kupasan jalan oleh alat berat. Motor kami pun beberapa kali terperosok ke kupasan jalan tersebut. Jalan Longsor di depan. Ada beberapa bagian hanya dibuka satu lajur. Kami berjalan lebih pelan.

"Teett..teeet", dia membunyilan klaksonnya.
"Tiin..tiinn", saya ikuti.

Saya berusaha lihat sekeliling. Ya memang di sisi kiri saya ada longsoran tebing. Sebelah kanan saya jurang.
Motor kami pun melaju perlahan. Jalanan tetap berliku.

"Teett..teeet", dia membunyikan klaksonnya lagi.
"Tiin..tiinn", saya ikuti.

Di sebelah kanan saya ada pohon di tepi jurang dengan cabang-cabang yang kering.

2 menit kemudian..
Dia menepikan motornya. Tapi..,
Perlahan wajahnya menengok ke arah saya. Saya merasakan aneh. Matanya berubah merah. Seperti banyak darah di seluruh bagian putihnya. Wajahnya berubah pucat. Dia pun tersenyum sinis. Saya bisa melihatnya dengan bayangan sinar lampu motor.

"Khiii..khii..khiii..khii", terdengar suara ketawa lemahnya.
"oh Tuhan, apalagi ini..", gumamku dalam hati.
Saya pun berusaha melaju. Tetapi tidak bisa. Beban belakang motor saya terasa lebih berat. Sedikit menoleh ke belakang, ada sesuatu yang melambai-lambai.
"Bismillah..."ucap saya lemah.
Motor saya pun berhenti. Dan.....

"Kak..". "Kakak..."

......

'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'



"Kakak.. Kenapa diam?", dia bilang.

"Oh.. Mmhh, gak.  Gak ada apa-apa", jawabku tersadar. Ughh. "Alhamdulillah, tidak ada apa-apa", gumamku dalam hati.

"Saya Ivonne", sambil memberikan tangannya sebagai tanda berkenalan.

"Gilang", ucapku sambil senyum.

"Kak, di Ruteng nginap di hotel apa?, nanti saya bantu cari lokasi hotelnya.", kata dia.

"Belum tau, belum pernah ke Ruteng"

"Oh gitu, kalau gitu, gimana kalau kakak menginap di rumah kami saja. Tapi jangan marah, rumah kami sederhana."

"Waaahh. -Sambil saya mengacungkan ibu jari sebagai tanda setuju-. Terima kasih kak ivonne."

"Ya udah kalau gitu, kita lanjut jalan. Itu lampunya sudah bisa nyala kah?"

"Ayo, iya bersyukur bisa nyala, berapa kilo lagi?", ucapku.

"Ada 11 kilo lagi."

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Motornya tetap di depan. Saya bersyukur dalam hati. "Alhamdulillah yaa Tuhan, ternyata tadi bayangan saya saja.
Maaf ivonne." mungkin bayangan tadi karena berharap Ivonne berubah menjadi vampir Bella Swan- Twilight, dibanding berubah menjadi Suzanna.

20 menit kemudian saya tiba di rumah bapak Yosef, bapaknya Ivonne. Mereka menjamu saya dengan baik. Saya pun diajak makan malam bersama dengan lauk tahu goreng dan sayur labu. Dan yang saya ingat, ibu Mia, ibunya Ivonne, membuat air panas untuk saya mandi. Mungkin beliau tau saya kehujanan dan melihat hidung saya berair. air panas yang mewah buat teman mandi. Yang mungkin tidak akan saya dapatkan seandainya saya menginap di penginapan lain di Kota Ruteng.


Sebelumnya saya bertanya ke Ivonne tentang klakson tadi. Dia bilang bahwa di titik longsor perbukitan Ranamese tadi sempat ada kejadian tanah longsor yang menimpa rumah penduduk. Dan sampai saat ini, jenazah beberapa penduduk tadi belum dapat ditemukan. Saya jadi mengerti ketakutan Ivonne melewati titik tersebut sendiri.

Tidak lama setelah mandi, saya pun pamit isirahat. Mata ini terasa berat sekali. t i d u r.


posisi perbukitan Ranamese





Komentar

Postingan Populer