To Travel Flores Island in 7 days - Waerebo Traditional Village

previously on: http://insangku.blogspot.com/2015/07/to-travel-flores-island-in-7-days-day-2.html




Entrance Gate


As you see, it was very thick misty day. Jarak pandang hanya sekitar 10m. Bisa bayangkan trekking di tengah hutan dengan kondisi seperti itu. Untungnya siang hari :D. Setelah trekking 2,5 jam, sampailah saya di gerbang ini. Pakaian pun basah dengan keringat dan keguyur hujan gerimis. Dingiinn..


Saya langsung menemui penerima tamu di sana dan menjelaskan kedatangan saya.Kak Bona dan Bapak Alex sebagai ketua desa adat. "Ya kalau datang sendiri, kita langsung mulai acara adat saja. Tidak perlu bareng gabung dengan rombongan lain", pak Alex bilang.

Saya diajak masuk ke Rumah Utama untuk acara adat penerimaan tamu. Berikut videonya. Upacara adat penerimaan tamu.


Pak Alex conducted ceremony.

Everyone wore their jacket & the local wore saroong. I have to change my wet clothes soon. After the ceremony and they took me to my bed, soon i went to the bathroom. Took a bath and yes it was freezing. However, after that, my body got adapted with the cold weather. 

Mulailah aktifitas foto sana sini. Ketika baca peraturan yang ditempel di bangunan sebelumnya, bahwa ada larangan kita teriak & melakukan kegiatan di lapangan. Tapi ternyata tidak. Sore itu, diawali beberapa foreigner, akhirnya para tamu dan penduduk lokal gabung bermain volley. Untuk menghangatkan suasana dan badan. 



Me with the Flag



Bentuk Rumah Tipikal

Aktifitas di Lapangan

Take my pose, Please...

the misty afternoon before dusk.


Menjelang magrib, kami mulai masuk ke rumah tamu untuk beristirahat. Ya, kami tidur di ruang terbuka tanpa sekat. Alas tidue dengan menggunakan sejenis matras tebal. Tidak tau disebut apa. Mereka juga menyediakan selimut tebal dengan 2 bantai.

Sekitar pukul 6.30, kami pun bersiap makan malam. Pengelola membagi kami ke dalam kelompok-kelompok sesuai grup kedatangan. Masing-masing kelompok membentuk lingkaran mengelilingi nasi dan lauk-pauk yang tersedia. Karena saya datang sendiri, maka saya digabung dengan grup keluarga asal Surabaya yang saya dahului tadi di perjalanan menuju ke sini. 

"Oh, ini yang tadi ngeduluin di atas (gunung) yah", kata bapak Gunawan.(duh pak maaf, sebenarnya saya lupa nama bapak) 

"Iya pak. Saya Gilang. Ijin gabung makan bareng yah", sahutku sambil senyum.

"Emang gk takut Sendiri, emang gak nyasar?"

"Yaelah pak, ada GPS. Kecuali kalo gak ada sinyal. Lagian saya ingin nyasar malah.,,, nyasar ke hati gebetan sih", tambahan saya dengan asal.

"Emang sering jalan sendiri gini?, udah kemana aja?", pak Gunawan lagi.

"Bapak sebutin deh lokasi-lokasi di Indonesia... ", dengan nada nantang, sambil mengerutkan dahi, memicingkan mata, dan mengangkat alis mata kanan ala Dwayne Johnson a.k.a The Rock.

Pak Gunawan: "Sabang, Pulau Weh?."

Saya: "mmhh, belum dong." Sambil agak sedikit mengangkat tangan.

Pak Gunawan: "Merauke? jayapura?"

Saya: "mmhh, belum juga pak". Dengan nada lebih yakin.

Pak Gunawan: "Wakatobi?"

Saya: "pak,..lokasinya jangan yang susah-susah dong.,, belum pernah.."

Pak Gunawan: "hahhhaha...".(Kemudian Pak Gunawan & keluarga men-smackdown saya).

Begitulah awal pembukaan obrolan kami dengan keluarga Bapak Gunawan ketika hendak memulai late lunch jam 5pm. Selanjutnya saya biarkan pak Gunawan bercerita soal Sabang dan pengalamannya ketika 8 bulan menjadi relawan ketika Aceh dilanda Tsunami. Sedangkan saya tetap mengunyah hidangan dengan lahap. Mereka terdiri dari 2 keluarga. Orang tua dan anak-anaknya dengan total 8 orang. Selama makan pun, kami banyak bertukar cerita tentang lokasi-lokasi di Indonesia. 
Selanjutnya, saya gabung kembali dengan keluarga ini ketika makan malam.

Semakin malam, saya pun tidak tahan dengan rasa kantuk yang saya dera. halahh bahasanya.. Saya memilih tidur cepat untuk pemulihan badan menjelang perjalanan jauh besok hari. Beberapa kelompok bule/foreigners ada yang melanjutkan aktifitas mereka dengan bermain kartu.

Info saja, listrik di lokasi ini menyala hanya sampai sekitar jam 10pm. Ya, setelahnya gelap gulita. Sebaiknya kita membawa senter dan headlamp kalau ke sini. Siapa tau malam-malam perlu pipis (take a pee). Yang saya ingat, sekitar jam 11 saya terbangun, untuk ke toilet. Ketika melihat ke langit, jutaan bintang sangat jelas terlihat. Sangat ingin melakukan stargazing. Tetapi apa daya, mata ini sangat berat dengan udara yang dingin menusuk tulang. (excessive descriptive words alias lebay). akhirnya saya pun kembali menuju peraduan.



suasana malam hari di dalam rumah tamu.


stargazing yang kesiangan. 5.15am.

flashlight picture at 5.30am




Setelah solat Subuh, saya pun segera menyiapkan diri untuk stargazing. Kondisi langit pun berubah-ubah. Kabut datang dan pergi sangat cepat. Well, i think it was too late to do stargazing
Pukul 6am, saya pun menaiki bukit yang ada bangunan dan viewing deck. Lokasi ini berada di ketinggian sekitar 30m di atas desa. Ya, memang menjadi spot untuk mengambil foto keseluruhan 7 bangunan ini. Saya pun membuka tripod dan membuat video timelapse. Tetapiiiihh, kabut tidak kunjung menghilang. Setelah sejam, matahari tidak kunjung menampakkan diri. Ya sudahlah... 

Saya pun kembali masuk ke rumah tamu untuk bersiap pulang. karena terkait dengan jadwal, maka saya minta sarapan duluan :p. dan makan di dapur dengan para mama yang sedang menyiapkan sarapan untuk semua tamu. 


bangunan dan spot untuk mengambil foto desa dari ketinggian.


Bird eye view at 6.00 am

7.50am

7.55 am

Selesai sarapan dan berkemas, saya pun berpamitan dengan para mama dan grup keluarga dari Surabaya. Dan saya bersiap trekking turun menuju desa Denge.
Tetapiii kemudian, kabut berangsur hilang. Cahaya matahari mulai menyinari dunia. Saya pun tidak melewatkan kondisi ini. Segera saya kembali naik ke viewing deck dan mengambil beberapa foto desa dengan matahari paginya. 

Sampai jumpa Waerebo!!!.


Bonus:
caption: Memberanikan selfie 360 karena merasa abis mandi :p.

Komentar

Unknown mengatakan…
Hi, saya ikha dari malaysia. boleh saya tahu, penginapan di rumah tamu itu perlu dibooking awal ? atau bagaimana ya? im a lil bit confused; the price stated by you IDR 325,000 itu for staying in Bapak Blasius's house and staying at the guest house when u reached up there? looking foward to ur reply .
gillnegara mengatakan…
Hi Ikha,

penginapan di rumah tamu bisa di booking dengan menginfokan kepada pak Blasius. However, pada masa non-peak-season, penginapan di rumah tamu biasanya cukup besar bagi para tamu. BIasanya tidak pernah ada quota bagi para tamu yang mau menginap. 1 rumah tamu tersebut bisa menampung sampai dengan 40 orang.
IDR 325.000 for staying at the guest house. if you come before 2pm, no need to stay at pak Blasius home. it is just a welcoming house and information center.

but if you come after 3pm, you better to stay at his house. Because to reach the vllage, you need 3-4 hours trekking.

Postingan Populer