Trip to Mount Kinabalu, Sabah, Malaysia - Part 1



Akhirnya hari yang dinanti tiba, memang perjalanan ini sempat tertunda akibat gempa besar yang terjadi di bulan Juni lalu. Berikut adalah posting yang menjelaskan kenapa Kinabalu menjadi tujuan saya: Kenapa Gunung Kinabalu?

Me flying. (taken by Yusuf Sinaga)


Grup kami berjumlah 7 orang. Adit menyusul ikut seminggu menjelang keberangkatan. Setelah 6 orang lainnya yaitu Mbak Mala, Mbak Sita, Nurrul, Luthfi, Yusuf, dan saya sendiri yang sudah memesan tiket sejak kami menunda keberangkatan. Memang sejak September lalu, akhirnya 5 orang tim kami yang lain memutuskan tidak ikut perjalanan bulan Desember ini dengan alasan masing-masing. Bisa dibilang, trip kali ini benar-benar menyesuaikan dengan jadwal pesawat AirAsia Jakarta-Kota Kinabalu. Jadwal AA Jakarta-KK berangkat pada Sabtu pukul 10 malam. Dan tiba di KK pada Minggu pukul 2am waktu setempat. Pesawat kebali dari KK-Jakarta bernagkat pada hari Selasa pukul 7pm waktu setempat dan tiba di Jakarta pukul 9pm. Ya, kami harus menyesuaikan waktu hiking diantara jadwal-jadwal tersebut.




Ahad/ Sunday 13 December 2015.
Ok, here is our itinerary. Kami menyewa mobil travel untuk mengantar kami dari Airport-menuju Kota-Kinabalu. Ya memang setelah mempertimbangkan bahwa menggunakan taxi akan lebih memakan biaya. Mobil travel yang cukup untuk menampung 11 orang penumpang ini kami sewa dengan harga 80RM untuk mengantar kami dari Airport menuju pusat kota. Kami beristirahat dan tidur di hostel Backpacker dengan tipe dormitory seharga 25RM/bed/night. Mungkin beberapa dari kami hanya dapat tertidur sekitar 2 jam efektif. Bahkan saya sendiri tidak dapat tidur dengan pulas.
Pukul 7.30 kami bersiap berangkat. Sebelumnya kami sarapan di restoran Melayu yang berada di samping hostel. Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil travel yang kami sewa. Oh ya, perjalanan pusat kota Kinabalu menuju Kinabalu Park di Ranau kami sewa seharga 250RM. Ya pilihan ini kami ambil karena kami harus memanfaatkan waktu yang terbatas. Mungkin ketika punya banyak waktu, grup rombongan yang ingin menuju Ranau bisa menggunakan bus atau mobil van dari Lapangan merdeka. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Kondisi jalan pun cukup bagus dan lancar.




Approaching Kinabalu Park

Kami sampai Kinabalu park pukul 9.30am. Selanjutnya proses registrasi di reception Sutera Sanctuary Lodges. Sebagai informasi, kami mengambil paket pendakian 2D1N seharga 670RM. Setelah mendapatkan kupon makan dan mengisi kelengkapan informasi, kami menuju reception Sabah park. Mereka adalah pengelola Taman Kinabalu ini. Kami terkejut dengan harga guide yang mencapai 230RM/5guests. Mereka menyebutkan bahwa harga baru ini berlaku sejak dibukanya kembali pendakian sampai pundak pada 1 December 2015.

Berikut rincian harga untuk Non-Malaysian:
Entrance fee Kinabalu park: 15RM/orang
Permit  : 100RM/orang
Insurance : 7RM/orang
Mountain Guide : 230RM/5orang, dan kami harus menggunakan 2 orang guide kaerna grup kami berjumlah 7 orang, sehingga total harga adalah 460RM.


registration at Sabah Park Office Kinabalu Park

Glamping. Glamor Camping. They prepared Lunch Box for climber before hiking time.


Proses registrasi ini memakan waktu 1,5 jam. Kami bahkan sempat menyantap paket sarapan yang sudah disiapkan, dan kami pun haru smenunggu kedatangan 2 orang guide warga setempat.
Akhirnya kami sampai di pintu masuk Timpohon. Setelah briefing dan berdoa, Kami memulai pendakian pukul 11.30am. Terlalu siang memang. Hal ini yang mengakibatkan kami baru tiba di laban Rata pukul 6.30pm. Pendakian hari ini memerlukan waktu 6 jam untuk menempuh jarak 6km. Trek gunung ini banyak yang terdiri dari trek tangga dengan kemiringan rata-rata 70derajat. Do not under-estimate this track.


Before hiking,..

before hiking 2

Briefing time 







Mulai kelelahan




Bahkan beberapa teman menitipkan carrier nya kepada guide karena kelelahan.
Saya tiba di Laban Rata tepat pukul 6pm. Tempat ini sudah dikelilingi kabut tebal. Memang sejak beberapa ratus meter di bawah, kabut sore mulai menenggelamkan pemandangan di area Laban Rata.
Dingin. Mungkin suhu udara sekitar 7 derajat Celcius.


Laban Rata at 6pm 13 December 2015
Sesampainya di Laban Rata lodge, saya kembali registrasi pada reception. Setelah mendapatkan kamar, kami langsung menyantap makan malam yang memang sudah berlangsung sejak pukul 4pm tadi. Kami telat. Begini suasana malam itu.




Kamar kami terdiri dari 8 beds ya ng bertingkat. Kami bertujuh berada dalam 1 kamar dan ditambah 1 orang traveler wanita dari London-Inggris. Berkenalan sebentar, saya tau namanya adalah Simoine. (semacam Harmoine-Harry Potter.)


Our room. 8 Beds Dormitory.
Setelah bebersih dan solat, saya bersiap untuk istirahat. Lelah sekali malam itu. Saya tidak tidur lbih dari 24 jam.

Senin, 14 December 2015.
Pukul 01.30am, kami sudah bangun dan segera berkemas untuk summit attack. Tepat pukul 2am, kami sarapan pada restoran di bawah. Semua pendaki sudah berkumpul, sarapan, dan bersiap mendaki ke puncak. Alhamdulillah langit sangat cerah. Bintang bertebaran dan garis kabut Milkyway pun terlihat disisi Timur. Sayang badan saya terlalu lelah sehingga rencana untuk star-gazing dan memfoto hujan meteor Geminid menjadi terlewatkan. Saya hanya bisa menikmati hujan meteor tersebut hanya dengan mata telanjang.

02.30, setelah briefing beberapa saat, kami mulai pendakian ke puncak. Tangga-tangga-dan tangga. Seharusnya tangga menjadikan perjalanan ini lebih mudah. Tetapi ternyata tidak. Hampir tidak ada area mendatar di gunung ini. Tangga menjadikan pendakian lebih berat ketika saatnya turun. You will know someday.

Kami (saya) tiba di check-point Sayat-Sayat sekitar pukul 4am. Ya, masih dalam target waktu yang ditetapkan oleh pengelola. Aneh memang, pengelola gunung ini memberikan target waktu untuk mencapai pos ini yaitu maksimal pukul 5am. Pendaki yang tidak bisa mencapai pos pada jam tersebut, tidak diperbolehkan melanjutkan pendakian sampai puncak. 

Pendapat saya, hal ini berkaitan dengan penginapan di Laban Rata. Ya, kita bisa membayangkan, apabila pendaki tidak bisa mencapai pos tersebut pukul 5am, maka dia sudah hampir pasti tidak bisa mencapai puncak pada pukul 7am. Hal ini akan berakibat pada tidak bisa kembali sampai Laban Rata pada maksimal pukul 10.30am. For your info, batas waktu check-out di Laban Rata adalah pukul 10.30am. Semua jadwal ini terkait dengan ketersediaan penginapan dan bed di lodge tersebut. Ada sisi positif dan negatifnya. But, business is a business and they manage this well.

Saya tiba di puncak tepat pukul 6am. Sejenak sebelum matahari muncul dari ufuk Timur. Tetapi saya kehilangan momen golden sky yaitu ketika cahaya kemerahan muncul sejak pukul 5.30am. Kelima sisa anggota kami sampai 20 menit kemudian. Alhamdulillah, cuaca cerah dan mennyaksikan matahari terbit dari horizon menjadikan pagi itu begitu sempurna. Kami berfoto-foto sejenak.



Panorama on East and South

our group consist of seven Indonesian.




07am
Kami pun sepakat untuk turun. Perjalanan di gunung batu granit ini terasa lebih mudah. Permukaan landscape batu yang tidak terlalu curam dan kemiringan 30derajat membuat perjalanan turun lebih cepat. Beda dengan kondisi gunung-gunung di Indonesia yang umumnya berpasir karena pegunungan vulkanik. Pemandangan yang luar biasa. Cahaya matahari membuat area longsor akibat gempa Juni lalu terlihat jelas. Beberapa bagian batu memang longsor. Area ini memang terkena dampak longsoran baru terparah dan mengakibatkan beberapa nyawa manusia hilang.
Descend




Tangga ini adalah tangga baru setelah gempa yang berkekuatan 6 Skala Richter pada Juni 2015.

08.45am
Saya kembali tiba di Laban Rata Lodge dan bersiap sarapan pagi. Beberapa pendaki sudah banyak yang check-out untuk meneruskan perjalanan pulang. Seluruh grup kami kembali ketika jam menunjukkan pukul 09.15am. Pukul 10.15am kami check-out dan bersiap turun.




entrance of Laban Rata Lodge

Good bye Mount Kinabalu. Thank you for the adventure. 
As usual, saya melakukan perjalanan turun sendirian. Lutfi berada jauh di depan. Sementara Yusuf, Adit, dan Nurrul di belakang saya setelah sebelumnya kami berjalan bersama. Tetapi mereka tidak membawa carrier karena sudah ditititpkan untuk dibawakan guide. Mbak Mala dan Mbak Sita berada lebih belakang lagi. Sekitar pukul 3pm, kami sudah berkumpul kembali di pintu Timpohon. Driver kami sudah siap mengantarkan ke Kinabalu Park untuk melakukan makan sore terakhir sebagai makanan penutup paket hiking dari Sutera Sanctuary Lodges.

This is also one of the reason why we decide to hire travel-van-car. You can imagine if we need to find a bus to take us back to Kota Kinabalu or to find hostel in Ranau Area.

To be continued…


Komentar

atis 1409 JS mengatakan…
Kereeen..... ditunggu cerita perjalanan selanjutnya
gillnegara mengatakan…
Makasih Mbak. :D senang mendaki dengan anda.
Anonim mengatakan…
keren mas gilang (y) (y)
info dong untuk booking via sutera sanctuary gimana cara nya ? tks
gillnegara mengatakan…
reservations.hq@suterasanctuarylodges.com.my

silakan ya.
gillnegara mengatakan…
bisa kirim e-mail ke sini juga:
reservations@suterasanctuarylodges.com.my
Unknown mengatakan…
Mas Gilang,,, Masinh inget gak ...... Dingin banget gak pas tidur di Laban rata nya ? sampe minus gak ya suhu nya...

Makasih yaa Mas Gilang...

Akhir Nov ini mau berangkat neeh.
gillnegara mengatakan…
halo bang.

pas sore-malam sangat dingin. tapi kayaknya gak sampe minus. mungkin karena malam itu badan panas dan keringetan abis mendaki. tapi menjelang jam 1 malam, tidurnya sudah bisa gak pake selimut.

good luck ya.
semoga lancar.
Rinjani Trekking Guide mengatakan…
Ago bro kita lanjutkan ke rinjani

Postingan Populer