Trip to Turkey - Day 5

Previously on: Trip to Turkey Day-4

Hari itu menjadi hari terakhirku berada di Turki. Tetapi tidak berarti menjadi hari bersantai ria. Masih ada beberapa tempat yang wajib didatangi. Setelah Subuh sekitar pukul 5.15am, saya keluar hotel dengan diiringi senyum bingung dari sang receptionist. Seolah dia berkata:"Mau kemana subuh-subuh gini bang? Cari nasi uduk di gang sebelah?".

Saya pun berjalan menelusuri jalur tram ke arah plaza Sultanahmet. Ya, tujuan pagi itu ialah hunting sunrise dengan  hagia sophia sebagai latar depan foto. Kota ini sudah menunjukkan kesibukannya. Tram yang berjalan pun sudah berisi puluhan penumpang yang menuju tempat kerja. 

Sesampainya di plaza, saya mengamati libgkungan sekitar. Saat itu area yang menjadi tujuan wisata ini masih sepi. Hanya ada satu orang penyapu jalanan dan satu orang polisi berjaga di dekat mobilnya. saya langsung tertarik dengan pencahayaan yang keluar dari masjid Biru. Mmhh, indah. Saya bisa mengambil foto bangunan ini dengan puas.

Blue Mosque at Fajr
*Sekilas cerita tentang Blue Mosque ini,  Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I berasal dari Dinasti Ottoman yang menguasai Turki pada abad ke-14. Sultan Ahmed I memerintah Turki mulai tahun 1603 – 1617. Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609, oleh arsitek terkenal pada jaman itu, yaitu Mehmed Aga. Lamanya pembangunan ini memakan waktu sekitar tujuh tahun.

Tujuan Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru tidak lain adalah untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M. Masjid Biru memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dengan tinggi kubah 43 meter, dan kolom beton berdiameter 5 meter. Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana.
Sebenarnya dari luar  tampaknya tak ada alasan karya arsitek Mehmed Aga yang dibangun pada 1609-1616 ini disebut dengan nama Masjid Biru. Barulah setelah kita masuk ke dalam terlihat interior masjid ini dihiasi 20.000 keping keramik biru yang diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik.
Karpet sutera yang menutup lantai masjid berasal dari tempat pemintalan sutera terbaik dan lampu-lampu minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor. Keramik yang menghiasi dinding masjid bermotifkan daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Terdapat 260 jendela di dalam masjid ini, sehingga bila kita berada didalamnya, suasananya teduh dan sejuk membuat siapapun yang beribadah di dalamnnya dapat merasakan kekhusyukan ketika berdoa kepada sang Pencipta. Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Uniknya Masjid Biru didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam. (*bagian ini ditulis oleh salah satu teman blogger. Gilang mengucapkan terima kasih untuk sumbangan tulisannya).
View from Sultanahmet Plaza
Mejeng #2 di blog sendiri
Hagia Sophia at Sunrise Time

Aya Sofya - Hurrem Sultan Hamami

Awan pun masih enggan beranjak dari wilayah ini dan menutupi matahari terbit. Andai saja hal lain yang terjadi, pasti foto-foto yang saya dapatkan akan lebih hangat dengan adanya sinar matahari pagi.

Selesai sarapan dan mandi, saya bersiap menuju Galata Tower. Oh ya, sarapan di hotel Luxx ini cukup lengkap dan mengeyangkan. Meskipun tidak ada menu nasi. Recommended!


Galata Tower

Kawasan Galata Tower dapat dicapai dengan melewati dua stasiun tram dari hotel di daerah Sirkeci. Kita harus tetap berjalan kaki denngan menaiki puluhan anak tangga. Ya memang kawasan ini berada di dataran yang lebih tinggi dibanding jalan sekitarnya. Mungkin hal ini yang menjadikan Galata Tower menjadi bangunan penting yang menjadi bagian dari sistem pertahanan kerajaan pada jamannya.

Tiket masuk Galata Tower seharga 25 TL. Tepat pukul 9am para petugas mempersilakan pengunjung untuk masuk. Rasa penasaran dan rasa diburu waktu pulang membuat saya menjadi pengunjung pertama yang memasuki bangunan dengan ketinggian 63 meter tersebut. 

Dengan menaiki elevator, kita bisa segera mencapai lantai atas. Ternyata saat ini ada dua restoran yang menyajikan menu makanan khas Turki. Tentunya mereka juga menawarkan hal mempesona lainnya berupa pemandangan kota Istanbul dari atas. Bisa jadi tempat makan malam romantis dengan pasangan.

Dari balkon, kita bisa menikmati cityscape kota Istanbul. Terlihat selat Bosphorus di sisi Timur yang membelah kota ini dengan kesibukan kapal-kapal hilir mudik. Terlihat juga Kawasan semenanjung Sultanahmet di sisi Selatan dengan berisikan Istana Topkapi yang menjadi latar belakang area. Dan menara-menara dari hagia sophia dan blue mosque di kejauhan. Kawasan Istanbul modern di sisi Barat dengan gedung-gedung yang lebih tinggi dan lebih modern. Serta terlihat kawasan Taksim dan area Golden horn pada sisi Utara.

10.00 am.

Akhirnya waktu jualah yang membatasi kegiatan saya pagi itu meskipun kata hati masih ingin lebih lama tinggal di negara ini. Segera saya kembali ke hotel untuk packing dan bersiap menuju Airport dan kembali ke Indonesia.


Jalan Kecil Menuju Galata Tower.

Galata Tower

Restaurant inside Galata Tower. You may wish to have romantic candle light dinner with view of Istanbul.
View to West Side
View to South Side

Me staring something.


Penutup

Turki menjadi salah satu bucket list, meskipun bukan termasuk prioritas. Sebuah negara yang menghubungkan tanah benua Eropa dan tanah benua Asia. Sebuah negara tempat perpaduan ras (eropa dan arab) yang sudah pasti menghasilkan manusia-manusia cakep dan super-cantik. Sebuah negara yang sarat sejarah Agama Islam. Bahkan pernah menjadi pemimpin kekhalifahan Islam yang berkembang di muka bumi. Sebuah negara tempat kita mengenang masa-masa kejayaan Islam sekaligus tempat berakhirnya sistem kekhalifahan islam-dinasti Utsmaniyyah. (Ternyata) Sebuah negara yang masjidnya tersebar di seluruh pelosok kota. Dengan satu tipe arsitektur dan berlaku secara nasional. Masjid yang selalu ramai ketika waktu solat. Tidak kalah dengan kota-kota di kawasan Arab Saudi.

Demikian halnya dengan Istanbul. Menjadi sebuah kota dan kawasan yang menghubungkan kedua benua ini. Salah satu kota paling romantis di dunia. Dimana manusia dan penduduknya beragam dan sangat menikmati ruang-ruang terbuka di tepian pantai dan kawasan lainnya. Kota yang sejarahnya sudah dimulai sejak abad 10 masehi. Kota yang saat ini penuh dengan museum. Kota yang sekilas terlihat hanya tumbuh dari sisi wisata dan turisme. 

Jarang saya ingin kembali ke tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Tetapi untuk yang satu ini, janji hati pasti kembali. Suatu saat, musim panas, dengan seseorang yang dekat di hati. Aamiin. Insyaa-a Allah.
See you again | tekrar görüşürüz | Au revoir | Sampai jumpa lagi | اراك لاحقا

Sampai jumpa di trip selanjutnya. See you on next trip. 


Panoramic View of Bosphorus Strait

Komentar

Postingan Populer